Minggu, 28 September 2014

MAKALAH SEJARAH GERAKAN PERLAWANAN TERHADAP JEPANG



GERAKAN PERLAWANAN TERHADAP JEPANG

MAKALAH


Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata pelajara Sejarah







Dissusun Oleh
MUHAMMAD YUSUF


K E M E N T E R I A N   A G A M A
M A D R A S A H   A L I Y A H   N E G E R  I   4   M A R T A P U R A
T A H U N   P E L A J A R A N   2 0 1 3 – 2 0 1 4









KATA PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga Karya Tulis yang berjudul Gerakan Perlawanan Terhasap Jepang ” ini dapat tersusun.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala kritik serta saran yang membangun dari para pembaca akan penulis terima dengan senang hati sehingga bisa menjadi sebuah pelajaran bagi penulis agar kelak penulis dapat membuat dengan lebih baik lagi.
Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan pada khususnya pembaca.


Astambul, 25 Januari 2014

Penulis


 






BAB I
PENDAHULUAN


Guna merangsang kepercayaan rakyat Indonesia, Jepang membentuk Gerakan Tiga A (Nippon Cahaya Asia, Pelindung Asia, Pemimpin Asia). Jepang berjanji, jika Perang Pasifik dimenangkan, bangsa-bangsa di Asia akan mendapat kemerdekaannya. Selain itu, Jepang berjanji akan menciptakan kemakmuran bersama di antara bangsa-bangsa Asia. Namun, dalam kenyataannya perlakuan Jepang yang kejam menimbulkan perlawanan tokoh-tokoh nasionalis dan rakyat Indonesia terhadap Jepang. Bentuk perlawanan terhadap Jepang ini dilakukan dengan cara kooperatif, gerakan bawah tanah, dan angkat senjata.






 





BAB II
PEMBAHASAN


1. Perjuangan Kooperatif (Kerjasama)

Sejumlah tokoh nasionalis Indonesia banyak yang menggunakan kesempatan pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Banyak di antara mereka yang menduduki jabatanjabatan penting dalam lembaga-lembaga yang dibentuk Jepang. Misalnya, Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur menduduki pimpinan Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Mereka dikenal dengan sebutan “Empat Serangkai”. Putera merupakan sebuah organisasi yang dibentuk Jepang pada Maret 1943, bertujuan menggerakan rakyat Indonesia untuk mendukung peperangan Jepang menghadapi Sekutu.

Melalui Putera, para pemimpin Indonesia dapat berhubungan dengan rakyat secara langsung, baik melalui rapat-rapat maupun media massa milik Jepang. Tokoh-tokoh Putera memanfaatkan organisasi-organisasi itu untuk menggembleng mental dan membangkitkan semangat nasionalisme serta menumbuhkan rasa percaya diri serta harga diri sebagai bangsa.
Mereka selalu menekankan pentingnya persatuan, pentingnya memupuk terusmenerus semangat cinta tanah air, dan harus lebih memperhebat semangat antiimperialisme- kolonialisme. Organisasi Putera mendapat sambutan yang hangat dari seluruh rakyat. Namun, karena Putera nyatanya bermanfaat bagi bangsa Indoensia, pemerintah Jepang akhirnya membubarkannya pada April 1944.

Selain melalui Putera, para pemimpin pergerakan juga berjuang melalui Badan Pertimbangan Pusat atau Cou Sangi In yang dibentuk Jepang pada 5 September 1943. Badan ini beranggotakan 43 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno. Dalam sidangnya pada 20 Oktober 1943, Cuo Sangi In menetapkan bahwa agar Jepang menang dalam perang, perlu dikerahkan segala potensi dan produksi dari rakyat Indoensia.

Untuk melaksanakan ketetapan itu dibentuklah berbagai kesatuan pemuda, sebagai wadah penggemblengan mental dan semangat juang agar mereka menjadi tenaga-tenaga pejuang yang militan. Berbagai kesatuan pemuda yang berhasil dibentuk antara lain: Seinendan (Barisan Pemuda), Keibodan (Barisan Pembantu Polisi), Seisyintai (Barisan Pelopor), Gakutotai (Barisan Pelajar), dan Fujinkai (Barisan Wanita).

Pada saat penggemblengan mental itulah Ir. Soekarno selalu menyisipkan penanaman jiwa dan semangat nasionalisme, pentingnya persatuan dan kesatuan serta keberanian berjuang dengan risiko apa pun untuk menuju Indonesia merdeka. Dengan demikian, kebijakan pemerintah Jepang dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh nasional untuk perjuangan. Para pemimpin Indonesia memanfaatkan organisasi ini untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan. Jelas sekali, para pemimpin Indonesia tidak bodoh untuk dibohongi oleh Jepang.

2. Perjuangan Bawah Tanah

Perjuangan bawah tanah adalah perjuangan yang dilakukan secara tertutup dan rahasia. Perjuang bawah tanah ini dilakukan oleh para tokoh nasionalis yang bekerja pasa instansi-instansi pemerintahan buatan Jepang. Jadi, di balik kepatuhannya terhadap Jepang, tersembunyi kegiatan-kegiatan yang bertujuan menghimpun dan mempersatukan rakyat untuk meneruskan perjuang untuk mecapai Indonesia merdeka.

Perjuangan bawah tanah ini tersebar di berbagai tempat: Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, serta Medan. Di Jakarta terdapat beberapa kelompok yang melakukan perjuangan model ini. Antara kelompok perjuangan yang satu dengan kelompok perjuangan yang lain, selalu terjadi kontak hubungan.

Kelompokkelompok perjuang tersebut, antara lain:

a. Kelompok Sukarni
Sukarni adalah tokoh pergerakan pada zaman Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, ia bekerja di Sendenbu (Barisan Propaganda Jepang) bersama-sama dengan Muhammad Yamin. Sukarni menghimpun tokoh-tokoh pergerakan yang lain, antara lain: Adam Malik, Kusnaeni, Pandu Wiguna, dan Maruto Nitimiharjo. Gerakan yang dilakukan kelompok Sukarni adalah menyebarluaskan cita-cita kemerdekaan, menghimpun orangorang yang berjiwa revolusioner, dan mengungkapkan kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh Jepang.

Sebagai pegawai Sendenbu, Sukarni bebas mengunjungi asrama Peta (Pembela Tanah Air) yang tersebar di seluruh Jawa. Karena itu, Sukarni mengetahui seberapa besar kekuatan revolusioner yang anti-Jepang. Untuk menutupi gerakannya, kelompok Sukarni mendirikan asrama politik, yang diberi nama “Angkatan Baru Indonesia” yang didukung Sendenbu. Di dalam asrama ini terkumpul para tokoh pergerakan antara lain: Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, dan Sunarya yang bertugas mendidik para pemuda tantang masalah politik dan pengetahuan umum.

b. Kelompok Ahmad Subarjo
Ahmad Subarjo pada masa pendudukan Jepang menjabat sebagai Kepala Biro Riset Kaigun Bukanfu (Kantor Penghubung Angkatan Laut) di Jakarta. Ahmad Subarjo berusaha menghimpun tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang bekerja dalam Angkatan Laut Jepang. Atas dorongan dari kelompok Ahmad Subarjo, Angkatan Laut berhasil mendirikan asrama pemuda yang bernama “Asrama Indonesia Merdeka”. Di asrama Indonesia Merdeka inilah para pemimpin bangsa Indonesia memberikan pelajaran-pelajaran guna menanamkan semangat nasionalisme kepada para pemuda Indonesia.

c. Kelompok Sutan Syahrir
Sutan Syahrir merupakan tokoh besar pergerakan nasional, yang pada zaman Hindia Belanda tahun 1935 dibuang ke Boven Digul di Irian Jaya, kemudian dipindahkan ke Banda Neira dan terakhir ke Sukabumi. Pada masa pendudukan Jepang, Syahrir berjuang diam-diam dengan cara menghimpun teman-teman sekolahnya dulu dan rekan-rekan seorganisasi pada zaman Hindia Belanda. Terbentuklah satu kelompok rahasia, Kelompok Syahrir.

Dalam perjuangannya, Syahrir juga menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang terpaksa bekerja sama dengan Jepang. Di samping itu, hubungan kelompok Syahrir dengan kelompok perjuangan yang lain berjalan cukup baik. Karena gerak langkah Syahrir dicurigai Jepang, untuk menghilangkan kecurigaan pihak Jepang Syahrir bersedia memberi pelajaran di Asrama Indonesia Merdeka milik Angkatan Laut Jepang (Kaigun), bersama dengan Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, dan Iwa Kusumasumantri.

d. Kelompok Pemuda
Kelompok Pemuda pada masa Jepang mendapat perhatian khusus dari pemerintah Jepang. Jepang berusaha memengaruhi para pemuda Indoensia dengan propaganda yang menarik. Dengan demikian, nantinya para pemuda Indonesia merupakan alat yang ampuh guna menjalankan kepentingan Jepang. Jepang menanamkan pengaruhnya pada para pemuda Indonesia melalui kursus-kursus dan lembaga-lembaga yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda.

Jepang mendukung berdirinya kursus-kursus yang diadakan dalam asrama-asrama, misalnya di Asrama Angkatan Baru Indonesia yang terdapat Sendenbu dan Asrama Indonesia Merdeka yang didirikan Angkatan Laut Jepang. Namun, pemuda Indonesia baik pelajar maupun mahasiswa tidak gampang termakan oleh propaganda Jepang. Mereka menyadari bahwa imperialisme yang dilakukan oleh Jepang pada hakikatnya sama dengan imperialisme bangsa Barat.

Pada masa itu, di Jakarta terdapat 2 kelompok pemuda yang aktif berjuang, yakni yang terhimpun dalam asrama Ika Daikagu (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan kelompok pemuda yang terhimpun dalam Badan Permusyawaratan/Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperpri). Kelompok terpelajar tersebut mempunyai ikatan organisasi yang bernama Persatuan Mahasiswa.

Organisasi ini merupakan wadah untuk menyusun aksi-aksi terhadap penguasa Jepang dan menyusun pertemuan-pertemuan dengan para pemimpin bangsa. Dalam perjuangannya, kelompok pemuda juga selalu berhubungan dengan kelompok-kelompok yang lain, yaitu kelompok Sukarni, kelompok Ahmad Subarjo, dan Kelompok Syahrir. Tokoh-tokoh Kelompok Pemuda yang terkenal antara lain: Chaerul Saleh, Darwis. Johar Nur, Eri Sadewo, E.A. Ratulangi, dan Syarif Thayeb.

3. Perlawanan Angkat Senjata

Perlakuan Jepang yang tak berperikemanusian menimbulkan reaksi dan perlawanan dari rakyat Indonesia di berbagai wilayah. Kebencian ini bertambah ketika di beberapa tempat, Jepang menghina aspek-aspek keagamaan. Berikut ini beberapa perlawanan rakyat pada masa penjajahan Jepang.

a. Perlawanan di Cot Plieng, Aceh
Perlawanan di Aceh ini dipimpin oleh Tengku Abdul Djalil, seorang ulama pemuda. Pada 10 November 1942, tentara Jepang menyerang Cot Plieng pada saat rakyat sedang melaksanakan shalat subuh. Penyerangan pagi buta ini akhirnya dapat digagalkan oleh rakyat dengan menggunakan senjata kelewang, pedang, dan rencong.

Begitupun dengan dengan serangan kedua, tentara Jepang berhasil dipukul mundur. Namun pada serangan yang ketiga, pasukan Teungku Abdul Jalil dapat dikalahkan Jepang. Peperangan ini telah merenggut 90 tentara Jepang dan sekitar 3.000 masyarakat Cot Plieng.

b. Perlawanan di Tasikmalaya, Jawa Barat
Perlawanan di Singaparna, Tasikmalaya, ini dipimpin oleh Kyai Haji Zaenal Mustofa. Perlawanan ini terkait dengan tidak bersedianya K.H. Zaenal Mustofa untuk melakukan Seikeirei, memberikan penghormatan kepada Kaisar Jepang. Dalam pandangan Zaenal Mustofa, membungkuk seperti itu sama saja dengan memberikan penghormatan lebih kepada matahari, sementara dalam hukum Islam hal tersebut terkarang karena dianggap menyekutukan Tuhan.

Pemerintahan Jepang kemudian mengutus seseorang untuk menangkapnya. Namun utusan tersebut tidak berhasil karena dihadang rakyat. Dalam keadaan luka, perwakilan Jepang tersebut memberitahukan peristiwa tersebut kepada pimpinannya di Tasiklamalaya. Karena tersinggung, Jepang pada 25 Februari 1944 menyerang Singaparna pada siang hari setelah shalat Jumat. Dalam pertempuran tersebut Zaenal Mustofa berhasil ditangkap dan kemudian diasingkan ke Jakarta hingga wafatnya. Jenazahnya dikuburkan di daerah Ancol, dan kemudian dipindahkan ke Tasikmalaya.

c. Perlawanan Sejumlah Perwira Pembela Tanah Air di Blitar, Buana dan Paudrah (Aceh), dan Cilacap
Perlawanan sejumlah perwira Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar terjadi pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Syudanco Supriyadi. Ia adalah seorang syodanco (komandan peleton) Peta. Perlawanan Supriyadi ini disebabkan karena tidak tahan lagi melihat kesengsaraan rakyat yang mati karena romusha. Namun perlawanan tersebut dapat diredam oleh Jepang.

Perlawanan ini tampaknya tidak direncanakan dengan matang sehingga mudah untuk digagalkan. Akhirnya para anggota Peta yang terrlibat perlawanan diadili di Mahkamah Militer Jepang. Orang yang berhasil membunuh Jepang langsung dijatuhi hukuman mati, antara lain: dr. Ismangil, Muradi, Suparyono, Halir Mangkudidjaya, Sunanto, dan Sudarmo.

Dalam persidangan tersebut, Supriyadi sendiri sebagai pemimpin perlawanan tidak diikutsertakan. Beberapa pihak mengatakan bahwa Supriyadi sesungguhnya sudah ditangkap dan dibunuh secara diam-diam, ada pula pihak yang percaya bahwa Supriyadi mokswa alias menghilangkan diri tanpa jejak Selain di Blitar, perlawanan pemuda Peta juga meletus di dua daerah di Aceh, yaitu Buana dan Paudrah.

Pemimpinnya adalah Guguyun Teuku Hamid; ia bersama 20 peleton pasukan melarikan diri dari asrama pada November 1944 untuk merencanakan pemberontakan. Namun Jepang berhasil mengancam keluarga Teuku Hamid sehingga Teuku Hamid kembali lagi. Tampaknya rencana perlawanan Teuku Hamid menambah simpati dan semangat masyarakat sehingga kemudian muncul kembali perlawanan.

Lahirlah perlawanan Padrah di daerah Bireun, Aceh Utara, yang dipimpin oleh seorang kepala kampung yang dibantu oleh regu Guguyun. Perlawanan tersebut menelan banyak korban dari pihak Aceh karena semua yang tertawan akhirnya dibunuh oleh Jepang.

Di Gumilir, Cilacap perlawanan dipimpin oleh seorang komandan regu bernama Khusaeri. Serangan pertama tentara Jepang terdesak, namun setelah bala bantuan datang Khusaeri mampu dikalahkan. Di Pangalengan, Jawa Barat, pun meletus perlawanan dari para personil Peta yang juga dapat dilumpuhkan







 

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian dalam makalah ini maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan yaitu :
      1.      Tujuan Jepang dating ke Indonesia adalah untuk mendapatkan dukungan dan memanfaatkan Indonesia dalam menghadapi sekutu.
      2.      Jepang membentuk BPUPKI dan PPKI sebagai realisasi janjinya pada Indonesia.
      3.      Indonesia melalui PPKI membentuk sebuah pemerintah sementara dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presidennya.

B.     Saran
Dari makalah ini pembaca telah mengetahui tentang betapa berat perjuangan bangsa Indonesia dalam mendapat kemerdekaan, jadi sebagai generasi penerus bangsa kita harus menghargai perjuangan pahlawan kita yang dengan susah payah merebut kemerdekaan dari penjajah.

 




Senin, 22 September 2014

Lirik Lagu Banjar Sangu Batulak



Sangu Batulak


Pisang silat pisang timbatu
Kuganganakan bacampur cuka
Mun jadi tulak apa sanguku
Sahibar doa iman didada

Sambah sujud ampuni dosa
Kasih satumat dalam dunia
Kilir kiliran sibanyu mata
Kampung nang jauh bakal kutuju
Kampung nang jauh kutuju

Mulai lawan bismillah
Batis nang kanan kulangkahakan
Lalu tawakkal alallah
Itu pang jadi sanguku

Mulai lawan bismillah
Batis nang kanan kulangkahakan
Lalu tawakkal alallah
Itu pang jadi sanguku

sambah sujud ampuni dosa
Kasih satumat dalam dunia
Kilir kiliran si banyu mata
Kampung nang jauh bakal kutuju
Amal wan iman sanguku


Ya Allah ........... Ya Allah ............

Sabtu, 20 September 2014

Lirik Lagu Banjar Baras Kuning

Baras Kuning
Cipt. Rasni/Dino

Yu Ka, bulik pang satumat
bulik pang satumat
Lawasnya ulun mahadang
pian maninggalakan kampung halaman
kapapurunan

Yu ka, bulik pang damini
bulik pang damini
Ulun basakit hati
pian nang ulun tangisi
kada sakira diri ulun marista

Pian datang, ulun sambut lawan mayang
Ulun hamburi baras, si Baras Kuning
Kur sumangat, di muhara lawang

Lirik Lagu Banjar Marista

MARISTA

Sudah talu bulan habar kadada
Tulak bacari ka banua urang
Talanjur purun - talanjur purun
Talu bulan hudah ulun ma'arit
asa dandaman kada pang hilang
Sian wan malam tabayang-bayang
Pian sa'urang.....

Tarabang burubg sikaliangan
Hinggap satumat di kayu jati
Hatiku bingung, bingung surangan
Kadada jua nang ma'ubati....nang ma'ubati

Asa malibuk hati di dalam
Maliat pian hudah badua
Hati dandaman balum pang hilang
Sakit marantan sampai ka tulang
Hati dandaman balum pang hilang
Sakit marantan sampai ka tulang

Puhunlah pinuis tabang bamiring
Tatak barata sampai ka puting
Badanku kurus bukanlah garing
Lantaran mata kada taguring...kada taguring.

Rabu, 20 Agustus 2014

Formasi dan situs pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2014

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) membuka pendaftaran secara online seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2014 melalui portal nasional Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) mulai hari ini, Rabu (20/8/2014).
Para pelamar yang berminat bisa mengunjungi situs http://sscn.bkn.go.id dan https://panselnas.menpan.go.id/ untuk mendaftar dan mendapatkan informasi lainnya.
Pendaftaran CPNS 2014 secara online, seperti dikutip situs Sekretariat Kabinet, ialah untuk menjamin prosesnya berlangsung secara transparan dan akuntabel. Selain itu, seleksi ini juga dimaksudkan agar setiap PNS yang lolos memang kompeten dan terbebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Pendaftaran CPNS dilaksanakan secara serentak dan terintegrasi melalui sistem pendaftaran online. Sistem pendaftaran CPNS online diperuntukkan bagi pelamar CPNS yang akan mengisi formasi umum di instansi pusat maupun daerah.
Formasi nasional CPNS 2014 terdiri dari formasi kementerian dan lembaga dan formasi di instansi pemerintah provinsi/kabupaten/kota. Kementerian PAN-RB telah mengumumkan 68 kementerian dan lembaga yang membuka formasi.
Sementara itu, formasi daerah terdiri atas 28 pemerintah provinsi dan 455 pemerintah kabupaten/kota.
A. Formasi pusat terdiri atas 68 kementerian/lembaga (total 24.928 formasi):
1. Tiga kementerian koordinator: 87 formasi
2. 27 kementerian: 18.253 formasi
3. 28 lembaga pemerintah non-kementerian: 4.783 formasi
4. Lembaga dan sekretariat lembaga negara: 1.805 formasi
B. Formasi daerah (total 38.824 formasi)
1. 10 provinsi di Pulau Sumatera dan sekitarnya: 11.347 formasi
2. Sembilan provinsi di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara: 8.376 formasi
3. Lima provinsi di Pulau Kalimantan: 6.644 formasi
4. Enam provinsi di Pulau Sulawesi: 4.920 formasi
5. Empat provinsi di Kep Maluku dan Papua: 7.537 formasi
Panselnas CPNS 2014 melakukan penyederhanaan pendaftaran CPNS, yakni dengan pendaftaran sistem online melalui website panselnas.menpan.go.id untuk semua lulusan, baik SMA, D-3, S-1.
Terdapat sejumlah syarat yang perlu diperhatikan, di antaranya seleksi hanya dapat diikuti melalui tahap pendaftaran di portal itu. Pendaftar wajib memiliki alamat surat elektronik yang berlaku.
Setelah melakukan registrasi di website resmi CPNS 2014, peserta harus melengkapi syarat-syarat yang akan dibawa pada pelaksanaan tes CPNS 2014.
Dikutip laman Panselnas CPNS 2013, umumnya pendaftaran online memuat persyaratan berikut:
1. Nomor Kartu Tanda Penduduk (KTP)
2. Tahun dan nomor ijazah pendidikan terakhir
3. Indeks prestasi kumulatif (IPK) transkrip nilai pendidikan terakhir
4. Berkas pasfoto digital berwarna berukuran 200 x 150 piksel dalam format JPEG dan maksimal berukuran sebesar 30 KB
5. Berkas fotokopi digital ijazah dan transkrip dalam format PDF dan maksimal berukuran 500 KB
6. Surat elektronik (e-mail) yang biasa dan selalu Anda akses secara berkala. Informasi khusus akan disampaikan melalui surat elektronik secara langsung.
7. Judul dan abstrak tugas akhir/tesis/disertasi
8. Pelamar lulusan dari luar negeri diwajibkan melampirkan surat keterangan penyetaraan ijazah dari Dikti, Kemendiknas, atau surat keterangan telah mengajukan permohonan penyetaraan ijazah.
Kebenaran isian serta berkas digital yang diunggah akan dicek pada saat verifikasi fisik sebelum ujian tulis. Ketidaksesuaian data akan mengakibatkan peserta digugurkan dan tidak diperkenankan mengikuti ujian tulis.
Dalam proses verifikasi, panitia tidak memiliki wewenang untuk melakukan perubahan pada isian Anda.

Sumber Berita http://nasional.kompas.com

Kamis, 14 Agustus 2014

MENGEMBANGKAN GAGASAN KREATIF DAN ARANSIR KARYA MUSIK



A. Mengembangkan Gagasan Kretif dan Mengaransir Karya Musik


1. Karya Cipta Musik

Karya cipta musik(Penciptaan musik) adalah suatu tindakan atau berkarya yang
menghasilkan satu bentuk peryataan musikal yang asli dari penciptanya, yang
sebelumnya belum pernah ada atau belum terwujud. Jenis ciptaan musik, meliputi:

a. Komposisi



Komposisi adalah musik yang diciptakan dalam bentuk tertulis untuk
diperdengarkan, diedarkan, dan dinilai masyarakat. Keberhasilan suatu karya
cipta seni ditentukan oleh nilai cipta atau bobotnya. Pembawa ciptaan seni yang
pertama kali diperdengarkan pada publik adalah penyanyi atau pemusik. Bagi
pendengar musik yang mempunyai selera musical dan kritis dapat menilai siapa
pembuat sukses musik tersebut, apakah komponisnya (pencipta lagu) atau
pemain-pemain musiknya.

b. Improvisasi

Penciptaan musik yang tidak tertulis dan tidak bersifat abadi (tidak dapat
diulang kembali) dalam bentuk serta insetitas yang sama. Penciptaan yang
spontanitas atau seketika saat memainkan alat musik atau bernyanyi, yang
merupakan ekspresi atau penjelmaan langsung dari perasaan atau angan-angan
musikal yang timbul saat ini.

c. Aransemen/transkripsi

Aransemen berasal dari kata arrangement artinya susunan, dan transkripsi artinya
alih tulis. Misalnya, suatu komposisi untuk orkes keroncong atau jazz
dialihtuliskan menjadi sebuah karya musik untuk organ tunggal, gitar tunggal,
atau musik kecil. Aransemen dapat berarti suatu hasil karya dari menyusun,
mengatur, merangkai suatu lagu/musik sehingga menjadi lebih indah dan
representatif dibanding bentuk aslinya.

Struktur aransemen musik, meliputi:

1) Introduksi (intro)

Introduksi berfungsi sebagai bagian pengantar menuju lagu pokok.

2) Lagu pokok

Pemaparan dan penggarapan melodi asli secara proporsional.

3) Interlude

Interlude merupakan jembatan antara bagian pemaparan dan bagian pengembangan
lagu pokok.

4) Pengembangan

Pengembangan adalah mengembangkan potensi-potensi kreasi yang telah diupayakan
muncul pada bagian interlude.

5) Coda

Coda adalah bagian yang ditambahkan pada akhir suatu aransemen lagu bertujuan
menghasilkan titik klimaks atau sebagai gongnya.

6) Tranposisi

Tranposisi adalah mengalihkan posisi dan kedudukan tangga nada. Misalnya, sebuah
lagu ditinggikan atau direndahkan 2 nada penuh sepenuhnya karena terlalu rendah
atau tinggi untuk dinyanyikan.

Syarat menjadi arranger musik, antara lain sebagia berikut: idealnya dapat
memainkan salah satu alat musik; berkemauan belajar dan inovatif; kreatif, jeli,
tekun, berbakat; suka mendengar/menyaksikan pertunjukan musik; dan terbuka
menerima sarandan kritik; dan menguasai persyaratan teknik.

Langkah-langkah membuat aransemen ialah sebagai berikut:

a) memilih dan menetapkan lagu yang baik;

b) menganalisir syair atau melodi;

c) menetapkan bentuk aransemen yang dibuat.

d) menentukan harmoni lagu berdasar keinginan pendengar lagu melalui melodi dan
lirik (syair) lagu;

e) mengenal kemampuan teknis, karakter, dan ambitus vokal setiap individu dalam
kelompok vokal yang membawakan ciptaan aransemen;

f) membuat alur melodi yang baik pada setiap kelompok suara sehingga terdengar
“bernyanyi”

2. Membuat Karya Musik Gagasan Sendiri

menulis notasi musik karya yang dibuat

menulis karya musik dengan menggunakan notasi dapat berupa not angka atau not
balok. Not angka adalah sistem penulisan musik (suara) dengan mengunakan lambang
angka (1 2 3 4 5 6 7). Not balok adalah sistem penulisan musik (suara) dengan
menggunakan lambang balok not yang terdapat dalam 5 garis sejajar teratur yang
disebut paranada atau sangkar nada atau stave. Contoh letak not (notasi) balok
pada sangkar nada yang bertanda kunci G (nada g’ digaris ke-2 paranada).

Tangga nada notasi balok dapat disusun sampai empat oktaf.

Sistem penulisan notasi musik

Agar musik dapat dimainkan orang lain (pemusik), seperti yang diinginkan
penciptanya, perlu dilakukan penulisan dengan notasi yang umum dipakai dengan
sekaligus dapat digunakan sebagai dokumen

Untuk penulisan melodi umumnya dipergunakan notasi balok, sedangkan untuk akord
pengiring dapat digunakan not angka, not balok, dan simbol akord.

3. Menulis Syair Lagu (Kalimat Lagu)

Menulis syair lagu atau lirik lagu yang disebut juga dengan kalimat lagu
merupakan bagian dari menulis nyanyian (Song Writing). Menulis nyanyian tersebut
adalah bagian dari komposisi. Penulis lagu dalam bahasa Inggris disebut
composer.

Setiap komposisi dengan syair lagu mencerminkan kuat karakter dan jiwa
penggubahnya atau merupakan ungkapan batin dari penggubah (pencipta).
Mengungkapkan perasaan yang diekspresikan dalam bentuk tulisan syair (kalimat
lagu) tersebut dipengaruhi keadaan, kondisi, situasi, dan lingkungan tempat
penggubah dan penulis berada yang disebut gaya. Ketentuan pembuatan syair lagu,
antara lain:

a. syair tidak tersendat-sendat dan harus mengalir

b. bentuk sajak dapat berupa:

1) bentuk bebas (tanpa sajak)

2) sajak asli dan homofoni

3) dimulai dengan huruf awal yang sama (aliterasi)

4) sajak pada baris ke-1 dan ke-3; ke-2, dan ke-4.

c. memperhatikan tata bahasa, seperti analogi, metafora, personifikasi, dan
alegori

Kalimat lagu diperlukan apabila ciptaan musik dinyanyikan (musik vokal).
Letaknya di bawah melodi (notasi angka, balok atau akord). Syair atau kalimat
lagu yang baik adalah apabila dinyanyikan mudah dimengerti maksudnya, mudah
dihafal, isinya menarik dan mengena hati, kalimat lagu indah, halus atau
berbentuk puitis, dan kalimat lagu berkaitan dengan judul lagu atau tema.

Sebelum menyusun lagu kalimat lagu, terlebih dahulu menentukan tema. Tema lagu
beraneka ragam, seperti tentang keindahan alam, pujian terhadap seseorang,
cinta, patriotisme, dan nasionalisme. Biasanya kalimat lagu merupakan ungakapan
perasaan dari pencipta saat itu, sesuai situasi dan kondisi yang
mempengaruhinya.

4. Menyajikan Karya Musik Yang Dibuat

Penyajian musik adalah kegiatan memainkan musik (baik musik vokal maupun
intrumen) yang dapat mewujudkan/membabarkan komposisi-komposisi tertulis/karya
ciptaan lagu menjadi kenyataan.

Pemain adalah seorang yang memperkenalkan dan sebagai juru bicara komponis
kepada publik dan mengabaikan pesan musikal komponis. Pemain atau penyaji musik
yang baik harus memiliki ketekunan, bakat, semangat, kerajinan, cinta, dan
pengabdian serta mempunyai idealisme dalam menggunakan alat-alat musik atau
menguasai. Untuk menguasai atau menjadi ahli diperlukan studi dan latihan
keterampilan teknis yang cukup lama. Lama dan singkatnyaketerampilan bermain
musik ini tergantung dari faktor-faktor berikut:

a. alat musik yang dipilih

b. adanya penyesuaian fisik dan jiwa terhadap alat musik

c. penggunaan waktu dalam berlatih

d. ketekunan belajar hingga pada tingkat tertentu

Bahan untuk penyajian musik yang dihidangkan pada komponis atau diharapkan hasil
dari buah cipta (karya) sendiri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penmyajian musik agar penonton tertarik
dan simpati, antara lain sebagai berikut:

1) Alat-alat musik distem terlebih dahulu sebelum dimainkan (siap pakai).

2) Pembawa irama (ritme) seperti drum atau kendang agar menjaga “beat” yang
tetap.

3) Bila ingin mengembangkan improvisasi, pemain melodi jangan keluar dari pola.
Sebaliknya, mengikuti perkembangan akord-akord yang dimainkan oleh gitar
penggiringnya.

4) Tidak memainkan alatsendiri terlalu keras (mendominasi) sehingga suara
alat-alat lainnya kalah atau tidak terdengar dan tidak ada harmonis.

5) Penggunaan unsur-unsur yang diluar musik, usahakan dihindari penggunaannya
dalam penyajian musik.

6) Permainan yang telah disajikan tidak diulang-ulang atau lebih dari satu kali
memainkan yang sama.

7) Para pemain harus berlaku sopan-santun, rendah hati, ramah, dan ceria saat
didepan penonton.

B. Menampilkan Karya Musik

1. Persiapan/Perencanaan Penampilan Musik

Supaya kita dapat menampilkan musik dengan baik secara maksimal sebelumnya perlu
dibuat perencanaan. Perencanaan tersebut meliputi beberapa hal sebagai berikut:

a. Komposisi panitia

Pembentukan panitia kecil tingkat kelas yang bertanggung jawabdan mengurusi
pelaksanaan pergelaran musik dikelas dari awal persiapan hinggga selesai.
Susunan (komposisi) panitia tersebut dibuat sesuai kondisi dan kebutuhan.
Komposisinya terdiri dari:

1) penanggung jawab

2) Penasihat

3) Ketua

4) Penulis/sekretaris

5) Bendahara

6) Seksi-seksi, yang meliputi seksi:perlengkapan, dekorasi, dokumentasi, dan
lainnya sesuai kebutuhan.

b. Tema

Penampilan musik perlu direncanakan tema yang disampaikan pada penonton atau
publik. Tema dapat diartikan sebagai sebuah gagasan, ide , atau pilihan utama
yang mendasari suatu karya seni musik. Penentuan tema perlu disesuaikan dengan
makna, maksud, dan tujuan diadakan pergelaran atau pertunjukan tersebut. Tema
yang dipilih didasarkan pada aspek-aspek tertentu yang berkaitan dengan
pelaksanaan pergelaran, antara lain dapat menarik perhatian pemirsa, aktual,
disesuaikan dengan penyajian, dan dibatasi ruang lingkupnya, misalnya pergelaran
musik kelas.

Contoh tema ialah sebagai berikut:

• Musik dapat mencerdaskan emosi

• Musik membentuk rasa halus siswa.

• Pertunjukan musik meningkatkan apresiasi seni.

Setiap pementasan seni (seni musik, seni teater atau drama, dan seni tari)
memerlukan tempat untuk pentas atau panggung. Panggung selalu memperoleh
perhatian penonton karena tata panggung yang baik akan berpengaruh terhadap
keberhasilan penampilan seni. Bentuk penataan atau dekorasi panggung yang bagus
akan membawa suasana pergelaran menyenangkan, tertib, tenang, sehingga pemain
dan penonton dapat berkonsentrasi penuh pada jalannya pertunjukan.

c. Menentukan kapan waktu dan tempat penampilan dilaksanakan

d. Tata panggung atau dekorasi yang dipilih.

Tata panggung pergelaran ada dua macam, yaitu sebagai berikut:

1) Tata panggung Outdooor (di luar ruang) atau disebut open air (udara terbuka).

2) Tata panggung Indoor (di dalam ruangan)

e. Perlengkapan

Perlengkapan memegang peranan penting dalam sebuah pergelaran musik. Pada
pergelaran musik kelas, kita tidak terlalu banyak memerlukan perlengkapan
(sederhana) karena tempat yang digunakan tidak luas dan jumlah penonton atau
pemain terbatas.

f. Dokumentasi

Untuk mengabadikan kegiatan pergelaran dan sebagai kenangan perlu adanya
dokumentasi baik yang berwujud gambar (foto) atau rekaman CD serta dalam bentuk
tertulis berupa laporan (rekaman) jalannya penyelenggaraan pentas musik dari
awal hingga selesai. Hasil dokumentasi gambar (foto) dan bentuk tertulis
tersebut dapat digunakan sebaai acuan dan perbandingan penyelenggaraan
berikutnya atau pada masa mendatang.

2. Menyusun Penjadwalan Kegiatan Penampilan Musik

Penampilan yang berhasil baik apabila pelaksanaan dari awal sampai selesai
berjalan lancar, susunan acara teratur, menarik, penonton tidak jenuh atau
bosan, penampilan yang disajikan sesuai dengan rencana.

Susunan jadwal penampilan tersebut antara lain:

a. Persiapan

1) Menyiapkan pemain yang akan tampil baik secara perorangan (individu) atau
secara kelompok.

2) Mempersiapkan jenis musik dan lagu yang akan dibawakan yang dipilih dari:

a) hasil karya pribadi siswa khususnya yang telah diseleksi atau diberi nilai
baik oleh guru seni musik.

b) dapat juga diambil dari musik atau lagu-lagu terkenal karya musisi atau
komponis terkenal.

3) Melakukan latihan vokal dan permainan musik secra rutin dengan membuat jadwal
waktu. Paling tidak dua bulan sebelum pelaksanaan pertunjukan, minimal dilakukan
delapan kali pertemuan atau sedikitnyas satu minggu sekali. Usahakan tidak
mengganggu jam pelajaran, sebaiknya di luar jam-jam pelajaran efektif.

4) Mengadakan general repetisi atau gladi bersih. Gladi resik (gladi bersih)
dibuat sesuai dengan jadwal penampilan atau susunan acara sebenarnya, khususnya
menepati waktu yang telah disediakan. Gladi bersih dilaksanakan sehari sebelum
pelaksanaan pergelaran.

5) Melakukan checking akhir secara keseluruhan, seperti:

a) kesiapan pemain

b) peralatan musik yang digunakan dalam kondisi siap pakai atau tidak ada
kerusakan

c) perlengkapan yang digunakan

d) penonton atau tamu undangan yang diundang

e) pengaturan tempat, dekorasi, dan tata panggung

f) dokumentasi foto atau gambar yang perlu diambil

g) kesiapan susunan acara atau atau jadwal penampilan dan pembawa acara atau
protokol (MC)

h) kesiapan tata busana (pakaian) dan tata rias artis

b. Membuat jadwal penampilan atau susunan acara

Membuat susunan acara pertunjukan perlu dicantumkan urutan penyajian nama pemain
(pelaksana), jenis lagu (musik) yang dibawakan serta batas waktu yang diberikan.

3. Kebutuhan Penampilan Karya Musik

Dalam penampilan karya musik, kita harus juga memerhatikan sarana dan prasarana
atau kebutuhan yang dapat mendukung terwujudnya pergelaran yang baik. Kebutuhan
tersebut meliputi hal berikut, antara lain:

a. Partitur atau teks lagu

Partitur sangat diperlukan dalam penyajian sebuah musik atau lagu. Menyanyi atau
bermain musik yang baik harus berpedoman pada partitur karena berisi tentang
notasi, nada, irama, tempo, birama, dan syair (lirik) lagu.

b. Peralatan musik atau instrumen

Alat-alat musik yang akan digunakan dalam pentas perlu disiapkan secra dini
(awal), mulai digunakan untuk latihan hingga pentas musik dan lagu yang
dibawakan.

c. Tata panggung dan tata dekorasi yang sesuai dengan tema jenis pergelaran.
Misalnya, untuk pergelaran kelas cukup menggunakan indoor atau arena tertutup.

d. Sound system sederhana yang suaranya tidak terlalu keras karena dalam
ruangan.

e. Tata lampu atau perlengkapan lampu penerangan untuk pertunjukan dalam
ruangan.

C. Menampilkan Karya Musik di Kelas

1. Susunan Acara

Supaya jalannya penampilan (pertunjukan) musik dapat lancar sesuai yang kita
kehendaki,perlu dibuat susunan acara. Untuk membuat susunan acara penampilan
musik, kita harus mengetahui dengan jelas tentang:

a. Jenis lagu-lagu dan musik apa yang disajikan. Nama (judul) lagu dan karya
musik serta nama-nama penyanyi atau pemain musik yang membawakan lagu-lagu dan
musik tersebut.

b. Urutan acara dari awal hingga akhir dan penampilan jumlah waktu (menit yang
digunakan)

Teks susunan acara dibuat sebagai berikut:

1) Isi (sederhana): poin-poin penting saja yang ditulis, sedangkan uraian kata
diserahkan kepada protokol dengan kreativitasnya.

2) Lebih rinci: diberi uraian dengan format dan pembagian dan pembagian waktu
yang rinci(jumlah menit).

2. Tata Ruang

Tata ruang penampilan musik, meskipun dalam satu kelas tetap perlu diatur ditata
dengan dekorasi dan komposisi yang harmonis. Tata ruang yang idealnya untuk
penampilan pertunjukan karya musik mencakup beberapa aspek, antara lain :

a. Keindahan (estetis) tercakup didalamnya rapi, teratur, bersih, dan rajin

b. Kenyamanan

Supaya penonton dan pemain merasa nyaman, dalam ruangan perlu ada ventilasi
udara yang cukup atau AC atau kipas angin sehingga udara menjadi segar (tidak
panas), dan ada ventilasi sinar matahari sehingga apabila pergelaran dilakukan
siang hari tampak terang dan bila malam diperlukan penerangan lampu.

c. Artistik

Ruang yang baik, disamping indah, nyaman, atau sehat sebaiknya juga artistik
atau punya nilai seni. Hal ini bisa dibuat dengan pengaturan hiasan riang atau
dekorasi ruang (interior) yang baik.

3. Menampilkan Karya Musik dengan Teknik, Gaya, dan Prosedur yang Sesuai

Penampilan musik yang menyuguhkan permainan musik baik vokal atau instrumental
membutuhkan teknik atau cara berolah vokal dan memainkan alat musik yang baik
(sesuai teori). Bernyanyi dan bermain musik harus dapat menjiwai isi musik
(lagu) seperti yang dikehendaki oleh penciptanya.

Unsur-unsur dasar untuk penjiwaan suatu karya musik, seperti berikut:

a. ketepatan interpretasi terhadap tanda tempo dalam pembawaan lagu;

b. memperhatikan rhytem (rime), yaitu ada gerak yang mengalir dengan mengetahui
bentuk-bentuk notasi dan bentuk tanda diam serta tanda birama;

c. bentuk melodi yang harmoni;

d. Bentuk dan pola lagu yang dinyanyikan atau dimainkan harus sesuai atau
selaras dengan karakter lagunya;

e. Para penyanyi dalam pemenggalan kalimat lagu (phresering) harus pas dan
sesuai;

f. Dalam bernyanyi dan memainkan musik agar ada dinamiknya;

g. Setiap membawakan lagu (karya) musik harus ada bagian tertentu yang merupakan
tempat klimaks lagu;

h. Bernyanyi vokal harus jelas dengan aksentuasi (tekanan suku kata) yang kuat;

i. Ketepatan dalam menembak suatu nada dan pitch (tinggi suara) agar benar;

j. Bisa membuat modifikasi (perubahan) tempo.

4. Teknik Penyajian Musik Vokal (menyanyi)

Menyanyi dengan suara merdu adalah dambaan setiap orang yang senang menyanyi
atau berolah vokal. Untuk dapat seperti itu, penyanyi harus dapat menjaga dan
merawat organ tubuh yang berkaitan dengan suara manusia seperti batang
tenggorok, pita suara, rongga mulut dengan bagian-bagiannya, dan paru-paru.
Kerusakan organ tubuh tersebut dapat rusak karena penyakit atau karena akibat
kesalahan teknik dalam pengolahan vokal karena kurang memperhatikan faktor
perubahan suara manusia yang meliputi empat fase mulai dari suara anak kecil
sampai tua.

a. Teknik membentuk ( memperluas register)

Menyanyi ada dua macam register suara, yaitu:

1) register dada yang merupakan register suara, yaitu untuk memproduksi suara
rendah dan berat. Caranya mengucapkan suara dengan memfaatkan jumlah udara
sedikit mungkin.

2) Register falsetto adalah teknik memproduksi suara tinggi atau rendah. Teknik
digunakan untuk mencapai nada-nada tinggi diluar kemampuan atau diluar ambitus
suara.

b. Teknik memproduksi nada

Menyanyi atau olah vokal dituntut kepandaian dalam memproduksi nada dengan warna
suara yang beraneka ragam.

c. Dalam bernyanyi posisi mulut harus benar. Untuk bentuk mulut dan posisi yang
salah akan mengganggu proses pembentukan suara.

1) Membuka mulut secara vertikal selebar tiga jari sehingga suara yang keluar
bisa bulat tidak lemah. Bentuk mulut elips.

2) Aliran udara dialirkan ke langit-langit agar suara yang keluar menjadi
lantang dan keras

d. menyanyi juga diperlukan teknik pernafasan karena persediaan udara yang
digunakan menyanyi lebih banyak dibanding untuk bernafas biasa (tidak menyanyi).
Macam-macam teknik pernafasan meliputi teknik pernapasan tulang selangka,
pernapasan tulang rusuk, pernapasan perut, pernapasan dada, dan pernapasan
diafragma.

5. Teknik Penyajian Musik Instrumental

Banyak cara atau teknik dalam menggunakan peralatan musik sehingga dapat
menghasilkan suara yang baik, menarik dan menyenangkan. Setiap alat musik
mempunyai atau menghasilkan warna suara yang berbeda dan mempunyai keunikan
tersendiri. Contoh : teknik dalam bermain gitar dengan menggunakan trik yang
menarik dan mudah dilakukan, seperti berikut:

a. Digital

Bunyi gitar terdengar seperti diproses secara digital, hanya memanfaatkan volume
gitar elektronik, suara yang dihasilkan seperti suara biola.

b. Pick slide

Bunti pick slide akan menghasilkan suara seperti pesawat jet. Cara ini mudah dan
banyak digunakan pada musik keras yang banyak menggunakan efek distorsi.

c. Artificial harmonics

Teknik permainan gitar menghasilkan efek bunyi yang menjerit keras sering
digunakan pada musik rock, underground, atau musik cadas.

d. The bell

Teknik ini menghasilkan musik bell

6. Teknik Penguasaan Menggunakan Microphone

Pergelaran atau pertunjukan musik saat ini tidak bisa lepas dari penggunaan soud
system dan microphone. Vokalis atau penyanyi harus dapat berpengaruh dengan
output suara yang terdengar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan mic sebagai berikut:

a. Volume suara jangan terlalu keras karena dapat menimbulkan efek feedback (berbunyi
“Ngiiing...”

b. Cara memegang mic jangan terlalu dekat dan terlalu jauh dari mulut, suara
menjadi tidak bagus.

c. Saat bernyanyi dengan suara normal guna menghindari adanya distorsi. Pastikan
memegang mic dengan jarak 3 – 8 cm dari mulut!

d. Sambil tetap bernyanyi, gerakkan mic secara merata menjauh dengan
mendengarkan efeknya pada saat kapan suara vokal mulai hilang, pada titik
tersebut jarak letak mic terjauh. Jarak mic yang pas adalah antara titik
terdekat dengan terjauh dari mulut (tengah-tengah) seingga akan menghasilkan
suara yang pas.

e. Usahakan dalam mengucapkan konsonan-konsonan terdengar jelas dan enak untuk
dinyanyikan ! pada umumnya, konsonan-konsonan B dan P sering menghasilkan suara
beg – beg – beg, bila udara dari mulut terlalu banyak akan menghasilkan suara “cezz,szzz,csssz...”
untuk itu, secukupnya saja dalam mengucapkan konsonan-konsonan B, P, C, S, dan
Z.

7. Gaya

Penampilan musik supaya lebih menarik diperlukan adanya gaya. Pengertian gaya
adalah cara atau teknik tertentu dalam menampilkan suatu karya musik atau lagu (Slamet
Rahardjo, 51 : 1990). Apabila gaya tersebut lebih menekankan pada kepentingan
perseorangan disebut selera. Pada teori vokal terdapat empat macam gaya lagu
sebagai berikut:

a. Gaya staccato

Musik atau lagu yang bebas lepas membuat jiwa menjadi berkobar dan bersemangat
penuh heroisme.

b. Gaya rubati

Mengikuti irama dan perasaan lagu dengan penu ekspresi dan penjiwaan dengan
santai, namun dengan improvisasi dalam menambah atau mengurangi kalimat lagu
dengan tidak meninggalkan kaidah pokok. Gaya ini dapat memberikan warna musik
khusus.

c. Gaya marcato

Merupakan teknik permainan alat musik yang dapat menimbulkan kesan tegas,
menonjol dan bersemangat. Ucapan lirik (syair) lagu kata-katanya dengan diberi
tekanan-tekanan tegas dan berkobar.

d. Gaya legat

Gaya ini dilegatkan pada musik-musik lembut (smooth), melankolis, manis, dan
mampu melukiskan suasana yang tenang, tenteram, dan damai. Hubungan kata-kata
yang satu dengan lainnya selalu bersambungan (legato) dan diperlukan teknik
pernafasan yang prima